PERTEMUAN 3
TEOLOGI FORMASI SPIRITUAL
Mata Kuliah: Formasi Spiritual
Program Studi Teologi – STT Wesley
Bobot: 2 SKS | Semester 2
I. PENDAHULUAN
Jika pada
pertemuan pertama mahasiswa diajak memahami apa itu formasi spiritual
dan mengapa hal itu penting, maka pada pertemuan kedua ini fokus
diarahkan pada pertanyaan yang lebih mendasar: apa dasar teologis dari
formasi spiritual Kristen? Tanpa fondasi teologi yang kuat, praktik-praktik
spiritual mudah tergelincir menjadi moralistik, legalistik, atau bahkan
sinkretistik.
Teologi
formasi spiritual menegaskan bahwa pertumbuhan rohani bukan sekadar usaha
manusia untuk menjadi lebih baik, melainkan respons terhadap karya penyelamatan
Allah yang berakar pada natur Allah sendiri. Formasi spiritual berakar dalam
karya Tritunggal: Bapa yang merancang keselamatan, Anak yang mewujudkan
keselamatan, dan Roh Kudus yang mengaktualkan keselamatan dalam kehidupan orang
percaya.
II. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah
mengikuti pertemuan ini, mahasiswa diharapkan mampu:
1. Menjelaskan dasar teologis
formasi spiritual dalam narasi Alkitab.
2. Memahami konsep imago Dei
dan dampak kejatuhan manusia.
3. Membedakan pembenaran dan
pengudusan dalam proses keselamatan.
4. Menjelaskan peran Tritunggal
dalam formasi spiritual.
5. Memahami perspektif Wesley
tentang pengudusan dan kesempurnaan Kristen.
III. IMAGO DEI: MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK FORMATIF
1. Manusia Diciptakan Menurut Gambar Allah
Kejadian
1:26–27 menyatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (imago
Dei). Ini berarti manusia diciptakan dengan kapasitas relasional, moral,
dan spiritual untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah dan sesama.
Sebagai
gambar Allah, manusia bersifat formatif—hidupnya terus dibentuk oleh relasi
dengan Pencipta. Formasi spiritual bukan konsep asing, melainkan bagian dari
maksud penciptaan sejak awal.
2. Imago Dei dan Panggilan untuk Menjadi
Imago Dei
bukan hanya status, tetapi juga panggilan. Manusia dipanggil untuk mencerminkan
karakter Allah dalam dunia. Dengan demikian, formasi spiritual adalah proses
pemulihan dan pendewasaan imago Dei agar semakin memancarkan kemuliaan
Allah.
IV. KEJATUHAN MANUSIA DAN DISTORSI FORMASI
1. Dosa sebagai Distorsi Relasional
Kejadian
3 menggambarkan kejatuhan manusia sebagai rusaknya relasi dengan Allah, sesama,
diri sendiri, dan ciptaan. Dosa tidak menghapus imago Dei, tetapi
merusaknya.
Akibat
dosa, manusia tetap dibentuk, tetapi ke arah yang salah. Formasi tanpa Allah
menghasilkan deformasi rohani.
2. Dampak Kejatuhan terhadap Kehidupan Batin
Distorsi ini
terlihat dalam:
- Kehendak yang terbelah
- Pikiran yang gelap
- Afeksi yang tidak tertata
- Relasi yang rusak
Oleh
karena itu, formasi spiritual Kristen selalu dimulai dari pengakuan bahwa
manusia membutuhkan anugerah, bukan sekadar disiplin diri.
V. PEMBENARAN DAN PENGUDUSAN
1. Pembenaran: Status Baru dalam Kristus
Pembenaran
adalah tindakan Allah yang menyatakan orang berdosa benar di hadapan-Nya oleh
iman kepada Kristus (Rm. 5:1). Ini adalah peristiwa sekali untuk selamanya,
bukan proses bertahap.
Pembenaran
menjadi dasar yang kokoh bagi formasi spiritual. Tanpa pembenaran, formasi
berubah menjadi usaha mencari penerimaan Allah.
2. Pengudusan: Proses Menjadi Serupa Kristus
Pengudusan
adalah proses berkelanjutan di mana orang percaya dibentuk menjadi serupa Kristus.
Di sinilah formasi spiritual menemukan konteksnya.
Pengudusan
mencakup:
- Dimensi posisi (kudus dalam
Kristus)
- Dimensi progresif (dibentuk
sepanjang hidup)
Formasi
spiritual adalah ekspresi konkret dari pengudusan progresif.
VI. KARYA TRINITAS DALAM FORMASI SPIRITUAL
1. Allah Bapa: Sumber dan Tujuan Formasi
Bapa
adalah perancang keselamatan dan tujuan akhir formasi spiritual. Segala
pembentukan hidup orang percaya diarahkan pada relasi anak dengan Bapa.
2. Allah Anak: Pola dan Teladan
Yesus
Kristus adalah gambar Allah yang sempurna (Kol. 1:15). Dalam hidup, kematian,
dan kebangkitan-Nya, Kristus menjadi pola kehidupan baru bagi umat Allah.
Formasi
spiritual bukan meniru Yesus secara dangkal, tetapi hidup dalam Kristus.
3. Roh Kudus: Agen Transformasi
Roh Kudus
adalah agen utama yang mengerjakan transformasi batin. Ia menerapkan karya
Kristus ke dalam kehidupan orang percaya secara personal dan kontekstual.
Tanpa Roh
Kudus, disiplin spiritual kehilangan daya transformatifnya.
VII. PERSPEKTIF WESLEY TENTANG PENGUDUSAN
1. Keselamatan sebagai Jalan
John
Wesley memandang keselamatan sebagai jalan keselamatan (the Scripture
way of salvation). Keselamatan tidak berhenti pada pertobatan, tetapi
berlanjut dalam proses pengudusan.
2. Anugerah yang Bertanggung Jawab
Wesley
menekankan responsible grace: anugerah Allah yang mengundang respons
aktif manusia. Disiplin rohani adalah sarana anugerah (means of grace).
3. Kesempurnaan Kristen
Kesempurnaan
Kristen menurut Wesley bukanlah tanpa dosa absolut, melainkan kesempurnaan
dalam kasih. Formasi spiritual bertujuan membentuk hati yang sepenuhnya
diarahkan kepada Allah dan sesama.
VIII. IMPLIKASI PRAKTIS BAGI MAHASISWA TEOLOGI
Teologi
formasi spiritual menolong mahasiswa memahami bahwa:
- Formasi berakar pada
anugerah, bukan usaha manusia
- Praktik rohani harus selalu
dikaitkan dengan karya Kristus
- Studi teologi adalah bagian
dari pengudusan
- Pelayanan tanpa formasi
berisiko menjadi kering dan destruktif
IX. STUDI KASUS BIBLIKA (DISKUSI KELOMPOK)
Kasus: Seorang mahasiswa teologi aktif
dalam pelayanan dan akademik, tetapi mengalami kelelahan rohani dan kehilangan
sukacita.
Pertanyaan
diskusi:
1. Bagaimana konsep pembenaran dan
pengudusan menolong memahami situasi ini?
2. Distorsi formasi apa yang mungkin
terjadi?
3. Bagaimana pendekatan Wesleyan
dapat memberikan arah pemulihan?
X. PENUTUP
Teologi
formasi spiritual menegaskan bahwa pertumbuhan rohani Kristen berakar pada
karya Allah Tritunggal dan diwujudkan dalam proses pengudusan yang
berkelanjutan. Dengan fondasi teologis yang benar, praktik formasi spiritual
tidak menjadi beban, melainkan sarana anugerah.
Pertemuan
ini mengundang mahasiswa untuk melihat kehidupan rohani mereka bukan sebagai
kewajiban religius, tetapi sebagai perjalanan kasih dalam anugerah Allah.
“Allah
bekerja di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”
(Filipi 2:13)
Kiranya
pemahaman ini menolong mahasiswa menjalani proses formasi spiritual dengan
iman, kerendahan hati, dan pengharapan.
Tugas:
- Membuat
peta konsep tentang proses pengudusan menurut teologi Wesley
- Membaca:
Collins, Kenneth J. "The Scripture Way of Salvation" (selected
chapters)
2 komentar:
Nama
Lectio
Lukas 9:23 Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.
9:24 Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.
Meditatio : Menyelamatkan.
Oratio : Melalui firman Tuhan yang saya baca, bahwasannya jika kita mengikut Tuhan dan memikul salib-NYA, maka Tuhan akan menyelamatkan nyawa kita dari dosa dan maut. Dan saya juga merasakan bahwa saya, telah diselamatkan oleh TUhan lewat pengorbanan Tuhan dikayu salib, untuk menebus dosa saya. Dan saya berkomitmen untuk tetap setia dan mengikut Tuhan.
Nama: Jelita Octavia Simamora
Lectio
Lukas 9:23 Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.
9:24 Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.
Meditatio : Menyelamatkan.
Oratio : Melalui firman Tuhan yang saya baca, bahwasannya jika kita mengikut Tuhan dan memikul salib-NYA, maka Tuhan akan menyelamatkan nyawa kita dari dosa dan maut. Dan saya juga merasakan bahwa saya, telah diselamatkan oleh TUhan lewat pengorbanan Tuhan dikayu salib, untuk menebus dosa saya. Dan saya berkomitmen untuk tetap setia dan mengikut Tuhan.
Posting Komentar