Minggu, 15 Maret 2026

PERTEMUAN KE 9- DISIPLIN KESEDERHANAAN DAN KEMURAHAN

 1. PENDAHULUAN

Kita hidup di zaman yang dipenuhi dengan tuntutan konsumsi, materialisme, dan pengejaran harta yang tak pernah puas. Sebagai mahasiswa teologi yang sedang dibentuk untuk melayani, Anda berada di persimpangan penting: akankah kita membiarkan nilai-nilai dunia membentuk cara kita memandang harta dan kepemilikan, ataukah kita akan membiarkan Injil Kristus mentransformasi seluruh gaya hidup kita, termasuk bagaimana kita memperoleh, menggunakan, dan membagikan berkat materi yang Tuhan percayakan?

Disiplin kesederhanaan dan kemurahan bukan sekadar tentang hidup hemat atau berderma sesekali. Ini adalah panggilan radikal untuk hidup dengan kebebasan sejati—bebas dari belenggu keinginan yang tak terpuaskan, bebas dari keserakahan yang mencengkeram, dan bebas untuk mengasihi Allah dan sesama dengan sepenuh hati. Dalam tradisi Wesleyan, kita memahami bahwa pengudusan mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk kehidupan ekonomi kita. John Wesley sendiri hidup dengan prinsip yang revolusioner: "Perolehlah sebanyak yang kamu bisa, simpanlah sebanyak yang kamu bisa, berikanlah sebanyak yang kamu bisa" (Earn all you can, save all you can, give all you can). Prinsip ini bukan tentang menumpuk kekayaan, melainkan tentang mengelola berkat Allah dengan setia agar dapat menjadi saluran berkat bagi orang lain.

Wesley sendiri mempraktikkan apa yang ia ajarkan. Meskipun penghasilannya meningkat berkali lipat sepanjang hidupnya, ia tetap hidup sederhana dengan anggaran yang sama, dan memberikan hampir seluruh kelebihan penghasilannya untuk menolong orang miskin dan memajukan Kerajaan Allah. Ia percaya bahwa kasih karunia Allah yang telah membebaskan kita dari dosa juga membebaskan kita dari cinta akan uang.

Dasar alkitabiah kita adalah 1 Timotius 6:17-19: "Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya."

Hari ini kita akan mengeksplorasi fondasi teologis kesederhanaan dan kemurahan, memahami bahaya cinta akan uang, dan belajar praktik-praktik konkret yang membebaskan kita untuk hidup murah hati bagi kemuliaan Allah.


2. TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mengikuti pertemuan ini, mahasiswa diharapkan mampu:

Aspek Kognitif:

  • Menjelaskan fondasi teologis dan alkitabiah dari disiplin kesederhanaan dan kemurahan sebagai ekspresi pengudusan progresif dalam tradisi Wesleyan, termasuk memahami setidaknya tiga prinsip utama penatalayanan yang Alkitabiah dan cara kasih karunia Allah membebaskan kita dari perhambaan materialisme.

Aspek Afektif:

  • Mengembangkan hati yang bersyukur dan murah hati, mengalami transformasi dari sikap "apa yang bisa saya dapatkan" menjadi "bagaimana saya bisa memberi," dengan kesadaran mendalam bahwa segala yang kita miliki adalah pemberian Allah yang harus dikelola dengan setia untuk kemuliaan-Nya dan kebaikan sesama.

Aspek Praktikal:

  • Merancang dan menerapkan setidaknya dua komitmen konkret dalam gaya hidup sederhana dan praktik kemurahan yang terukur (seperti membuat anggaran pribadi yang mencakup memberi secara teratur, mengurangi konsumsi yang tidak perlu, atau terlibat dalam pelayanan kepada yang membutuhkan), yang dapat diterapkan segera dalam kehidupan sehari-hari sebagai mahasiswa.

Aspek Transformatif:

  • Mengalami pembebasan rohani dari keserakahan dan kecemasan tentang materi melalui penyerahan penuh kepada Allah sebagai Pemilik segalanya, sehingga mampu hidup dengan sukacita dalam kesederhanaan dan kemurahan sebagai refleksi karakter Kristus yang telah "menjadi miskin demi kita, supaya kita menjadi kaya oleh kemiskinan-Nya" (2 Korintus 8:9).

3. ISI PEMBELAJARAN

A. Fondasi Alkitabiah: Allah Pemilik Segala Sesuatu

Titik berangkat disiplin kesederhanaan dan kemurahan adalah pemahaman teologis yang benar tentang kepemilikan. Mazmur 24:1 menegaskan: "Tuhan punya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya." Kita bukan pemilik, melainkan penatalayan (steward) yang dipercaya Allah untuk mengelola berkat-Nya.

Lukas 12:15 mencatat peringatan Yesus yang tajam: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." Yesus kemudian menceritakan perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh yang menimbun harta untuk dirinya sendiri tetapi tidak kaya di hadapan Allah (Lukas 12:16-21). Perumpamaan ini mengajarkan bahwa akumulasi harta tanpa tujuan kekal adalah kebodohan rohani.

Dalam Matius 6:19-21, Yesus mengajar: "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya... Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga... Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." Ini bukan larangan memiliki harta, melainkan peringatan tentang di mana kita meletakkan hati kita. Harta duniawi bersifat sementara dan dapat dirusak; investasi kekal adalah dalam Kerajaan Allah.

Ibrani 13:5 mengingatkan: "Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: 'Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.'" Kepuasan sejati bukan dalam banyaknya kepemilikan, melainkan dalam janji kehadiran Allah yang setia.

B. Perspektif Wesleyan: Penatalayanan sebagai Ibadah

John Wesley memiliki pandangan yang sangat praktis dan radikal tentang uang dan harta. Dalam khotbahnya yang terkenal, "The Use of Money" (Penggunaan Uang), Wesley mengajarkan tiga aturan yang telah disebutkan di awal: perolehlah sebanyak yang kamu bisa (melalui kerja yang jujur dan rajin), simpanlah sebanyak yang kamu bisa (hidup sederhana, hindari pemborosan), dan berikanlah sebanyak yang kamu bisa (untuk menolong orang miskin dan memajukan Kerajaan Allah).

Pertama, Wesley memahami kemurahan sebagai buah kasih karunia pengudusan. Ketika kasih karunia Allah bekerja dalam hati kita, menguduskan kita, salah satu tanda nyatanya adalah tangan yang terbuka untuk memberi. 2 Korintus 8:9 mencatat: "Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh kemiskinan-Nya." Kristus telah memberikan segalanya bagi kita; respons kita adalah memberi dengan murah hati kepada orang lain.

Kedua, kesederhanaan adalah jalan menuju kebebasan rohani. Wesley percaya bahwa keterikatan pada harta duniawi adalah salah satu penghalang terbesar dalam perjalanan pengudusan. 1 Timotius 6:9-10 memperingatkan: "Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan... Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang." Kesederhanaan membebaskan kita dari jerat ini.

Ketiga, memberi adalah sarana kasih karunia. Seperti halnya doa dan puasa, memberi adalah praktik rohani yang membuka hati kita untuk menerima lebih banyak kasih karunia Allah. 2 Korintus 9:6-8 berjanji: "Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga... sebab Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan."

C. Bahaya Materialisme dan Konsumerisme

Kita hidup dalam budaya yang terus-menerus membisikkan bahwa kebahagiaan dapat dibeli, bahwa status ditentukan oleh apa yang kita miliki, dan bahwa kepuasan dapat ditemukan dalam konsumsi. Namun Alkitab dan pengalaman manusia menunjukkan sebaliknya.

Pengkhotbah 5:10 menyatakan: "Siapa mencintai uang tak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tak akan puas dengan penghasilannya." Materialisme adalah lingkaran setan yang tidak pernah memberikan kepuasan sejati. Selalu ada satu barang lagi yang "dibutuhkan," satu upgrade lagi yang "diperlukan."

Yesus dalam Matius 6:24 mengatakan dengan tegas: "Tidak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan... Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Mamon (uang, harta) menuntut kesetiaan eksklusif, sama seperti Allah. Kita harus memilih: apakah Allah atau harta yang akan menjadi tuan dalam hidup kita?

Bagi mahasiswa teologi, godaan materialisme mungkin tampak berbeda—bukan mobil mewah atau rumah besar, tetapi keinginan untuk membandingkan diri dengan teman yang lebih berkecukupan, iri hati pada mereka yang bisa membeli buku-buku baru sementara kita harus memfotokopi, atau kecemasan tentang bagaimana nanti bisa melayani dengan pendapatan yang mungkin terbatas. Namun akarnya sama: kurangnya kepercayaan bahwa Allah akan memelihara kita.

D. Praktik Kesederhanaan dan Kemurahan yang Konkret

Disiplin rohani ini memerlukan tindakan praktis:

1. Hidup di Bawah Kemampuan Finansial Ini berarti dengan sengaja memilih gaya hidup yang lebih sederhana dari yang sebenarnya mampu kita jalani, agar ada lebih banyak yang bisa diberikan. Sebagai mahasiswa, ini bisa berarti: membeli buku bekas daripada baru, memasak sendiri daripada makan di luar, menggunakan transportasi umum daripada ojek online.

2. Memberi Secara Teratur dan Terencana Wesley mengajarkan untuk memberi "perpuluhan" (10% dari penghasilan) sebagai standar minimum, tetapi mendorong untuk memberi lebih banyak lagi sesuai kemampuan. Buatlah komitmen untuk memberi secara teratur—baik untuk gereja, untuk orang miskin, atau untuk pekerjaan misi.

3. Berbagi dengan yang Membutuhkan Yakobus 2:15-16 menantang: "Jika seorang saudara atau saudara perempuan tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: 'Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!', tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?" Iman sejati dinyatakan dalam tindakan konkret menolong yang berkekurangan.

4. Bersyukur untuk Apa yang Ada 1 Tesalonika 5:18 mengajar: "Mengucap syukurlah dalam segala hal." Syukur adalah antidot terhadap ketamakan. Ketika kita bersyukur untuk apa yang sudah kita miliki, kita terbebaskan dari dorongan untuk terus menginginkan lebih.

Ingatlah bahwa tujuan akhir kesederhanaan dan kemurahan adalah mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti diri sendiri—inilah inti pengudusan Kristen.


4. PRAKTEK PEMBELAJARAN

Aktivitas 1: Refleksi Pribadi - "Inventarisasi Hati" (20 menit)

Petunjuk Fasilitasi:

  • Mulai dengan waktu hening (2 menit) untuk mempersiapkan hati.
  • Pandu mahasiswa membaca Matius 6:19-21 secara pribadi.
  • Bagikan lembar refleksi dengan pertanyaan-pertanyaan berikut:

1.    "Di mana harta saya saat ini?" (Apa yang paling saya hargai/kejar dalam hidup ini?)

2.    "Apa yang saya takutkan kehilangannya?"

3.    "Apakah ada sesuatu yang saya genggam terlalu erat sehingga tidak mau membaginya dengan orang lain?"

4.    "Bagaimana cara saya menggunakan uang/sumber daya yang saya miliki bulan lalu? Apakah mencerminkan nilai-nilai Kerajaan Allah?"

  • Berikan waktu 12 menit untuk refleksi dan menulis dengan jujur.
  • Tutup dengan doa pribadi penyerahan (5 menit): minta mahasiswa menyerahkan area-area yang mereka identifikasi kepada Tuhan.
  • Tidak perlu dibagikan kepada umum—ini adalah antara mahasiswa dengan Tuhan.

Tujuan: Membantu mahasiswa mengidentifikasi kemelekatan materiil dalam hidup mereka dan membawa hal tersebut kepada Tuhan dalam doa.

Aktivitas 2: Studi Kasus Kelompok - "Dilema Penatalayanan" (25 menit)

Petunjuk Fasilitasi:

  • Bagi kelas menjadi kelompok kecil (4-5 orang).
  • Berikan setiap kelompok satu kasus dilema: Kasus 1: Seorang mahasiswa teologi menerima uang saku Rp 1.000.000/bulan dari orang tua. Ia melihat teman sekelasnya yang kesulitan membayar uang kuliah. Namun ia juga ingin menabung untuk membeli laptop baru yang "diperlukan" untuk studi. Apa yang harus ia lakukan? Kasus 2: Sebuah kelompok pemuda gereja mengumpulkan dana untuk kegiatan retreat yang menyenangkan. Di saat yang sama, ada keluarga di gereja yang rumahnya kebakaran dan membutuhkan bantuan mendesak. Apakah dana retreat harus dialihkan? Kasus 3: Seorang mahasiswa mendapat beasiswa yang cukup besar. Teman-temannya mengajaknya merayakan di restoran mahal, tetapi ia merasa dipanggil untuk memberi persepuluhan dari beasiswa tersebut dan hidup sederhana. Bagaimana ia seharusnya merespons?
  • Minta setiap kelompok mendiskusikan (15 menit):
    • Apa prinsip-prinsip alkitabiah yang relevan?
    • Apa yang akan John Wesley katakan dalam situasi ini?
    • Keputusan apa yang paling mencerminkan kesederhanaan dan kemurahan?
  • Setiap kelompok mempresentasikan kesimpulan mereka (10 menit total untuk 3 kelompok).

Tujuan: Melatih mahasiswa menerapkan prinsip-prinsip alkitabiah dalam situasi nyata yang mereka hadapi.

Aktivitas 3: Komitmen Praktikal - "Langkah Kecil yang Berarti" (20 menit)

Petunjuk Fasilitasi:

  • Bagikan lembar "Kontrak Kesederhanaan dan Kemurahan Pribadi."
  • Jelaskan bahwa setiap mahasiswa akan membuat 2-3 komitmen konkret yang dapat mereka lakukan minggu ini, misalnya:
    • Kesederhanaan: "Saya akan membawa bekal makan siang dari rumah/kos selama 5 hari minggu ini, dan menggunakan uang yang dihemat untuk memberi kepada..."
    • Kemurahan: "Saya akan membagikan salah satu buku saya yang berharga kepada teman yang membutuhkan."
    • Penatalayanan: "Saya akan membuat catatan pengeluaran harian untuk melihat ke mana uang saya pergi."
  • Berikan waktu 10 menit untuk menulis komitmen pribadi.
  • Minta mahasiswa berpasangan (accountability partner) dan saling berbagi satu komitmen mereka, lalu saling mendoakan (10 menit).
  • Kumpulkan salinan komitmen (tidak wajib detail lengkap jika pribadi) untuk ditindaklanjuti minggu depan.

Tujuan: Membawa pembelajaran dari teori ke aplikasi konkret dan terukur dalam kehidupan sehari-hari.

Total Waktu Aktivitas: 65 menit (menyisakan 35 menit untuk pengajaran formal dan tanya jawab)


5. PENUTUP

Saudara-saudari yang terkasih, hari ini kita telah menjelajahi kebenaran yang menantang sekaligus membebaskan: bahwa kita dipanggil untuk hidup dalam kesederhanaan dan kemurahan, bukan karena Allah ingin membuat hidup kita susah, melainkan karena Ia ingin membebaskan kita untuk mengalami sukacita sejati yang tidak bergantung pada harta duniawi.

Mari kita mengingat kembali poin-poin utama:

1.    Allah adalah pemilik segala sesuatu; kita adalah penatalayan. Perspektif ini mengubah cara kita memandang dan menggunakan semua yang kita miliki.

2.    Kesederhanaan membebaskan kita dari perhambaan materialisme, sementara kemurahan membuka pintu untuk mengalami sukacita memberi yang mencerminkan karakter Allah sendiri.

3.    Praktik konkret seperti hidup di bawah kemampuan, memberi secara teratur, dan bersyukur adalah sarana kasih karunia yang membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus yang telah memberikan segalanya bagi kita.

Marilah kita berdoa bersama:

"Tuhan Yesus, Engkau yang kaya telah menjadi miskin demi kami. Ajarlah kami untuk hidup dengan tangan yang terbuka—terbuka untuk menerima berkat-Mu dengan syukur, dan terbuka untuk membagikannya dengan murah hati kepada sesama. Bebaskan kami dari cinta akan uang dan keterikatan pada harta duniawi. Tolonglah kami untuk menemukan kepuasan sejati di dalam Engkau, bukan dalam apa yang kami miliki. Jadikanlah kami penatalayan yang setia yang mengelola setiap berkat untuk kemuliaan-Mu. Dalam nama-Mu yang mulia, Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin."

Aplikasi Praktis untuk Minggu Ini: Mulailah dengan langkah-langkah kecil yang telah Anda komitmenkan dalam aktivitas tadi. Buatlah catatan sederhana tentang pengeluaran Anda selama seminggu—bukan untuk merasa bersalah, tetapi untuk menjadi lebih sadar. Carilah setidaknya satu kesempatan untuk memberi atau berbagi dengan seseorang yang membutuhkan, sekecil apapun itu. Dan setiap kali Anda tergoda untuk membeli sesuatu yang tidak perlu, berhentilah sejenak dan tanyakan: "Apakah ini kebutuhan atau keinginan? Bagaimana uang ini bisa lebih baik digunakan untuk Kerajaan Allah?"

Ingatlah: kesederhanaan dan kemurahan bukan tentang menjadi miskin demi kemiskinan itu sendiri, melainkan tentang menjadi kaya dalam kasih dan bebas untuk melayani Allah dengan sepenuh hati.


6. DISKUSI DAN TUGAS MINGGUAN

Pertanyaan Diskusi:

1.    Refleksi Budaya: Bagaimana budaya konsumerisme Indonesia (termasuk budaya media sosial yang mendorong pamer) mempengaruhi cara kita memandang uang, kepemilikan, dan status? Dalam cara-cara praktis apa kita sebagai mahasiswa teologi dapat melawan arus budaya ini tanpa menjadi legalistik atau munafik?

2.    Teologis: John Wesley mengajarkan untuk "memperoleh sebanyak yang kamu bisa, menyimpan sebanyak yang kamu bisa, dan memberi sebanyak yang kamu bisa." Bagaimana ketiga prinsip ini saling melengkapi? Mengapa urutan ini penting? Apakah ada bahaya jika kita hanya menekankan satu atau dua dari ketiga prinsip ini?

3.    Pribadi: Ceritakan pengalaman ketika Anda harus memilih antara menggunakan uang untuk diri sendiri atau memberi kepada orang lain. Apa yang Anda rasakan sebelum, saat, dan sesudah membuat keputusan tersebut? Apa yang Anda pelajari tentang hati Anda sendiri dari pengalaman itu?

4.    Praktikal: Sebagai mahasiswa dengan sumber daya yang terbatas, bagaimana kita dapat mempraktikkan kemurahan? Apakah kemurahan selalu tentang uang, atau ada bentuk-bentuk kemurahan lain yang sama berharga? Berikan contoh konkret.

5.    Masa Depan Pelayanan: Bayangkan 10 tahun dari sekarang Anda sudah menjadi pendeta atau pekerja penuh waktu di gereja. Bagaimana disiplin kesederhanaan dan kemurahan yang Anda bangun sekarang akan mempengaruhi kredibilitas dan efektivitas pelayanan Anda nanti? Apa bahayanya jika seorang pelayan Tuhan hidup dalam kemewahan sementara jemaatnya banyak yang berkekurangan?

Tugas Mingguan:

Judul: Jurnal Penatalayanan dan Praktik Kemurahan Mingguan

Petunjuk Pelaksanaan:

Bagian 1: Pencatatan Keuangan (Dilakukan Setiap Hari)

1.    Buatlah tabel sederhana dengan kolom: Tanggal | Pemasukan | Pengeluaran | Kategori | Refleksi

2.    Catat setiap pemasukan dan pengeluaran Anda selama 7 hari, tidak peduli sekecil apapun

3.    Kategorikan pengeluaran: Kebutuhan Pokok | Pendidikan | Persembahan/Memberi | Hiburan | Lain-lain

4.    Di kolom refleksi, tulis catatan singkat: Apakah pengeluaran ini perlu? Apakah mencerminkan nilai-nilai Kerajaan Allah?

Bagian 2: Tindakan Kemurahan (Minimal 2 kali dalam seminggu) Lakukan setidaknya DUA dari tindakan berikut:

  • Berikan sesuatu yang berharga bagi Anda (buku, makanan, waktu) kepada seseorang yang membutuhkan
  • Traktir makan teman yang Anda tahu sedang kesulitan keuangan
  • Sisihkan sejumlah uang (sesuai kemampuan) untuk diberikan kepada orang miskin/pengemis yang Anda temui
  • Relakan waktu Anda (2-3 jam) untuk membantu seseorang tanpa mengharapkan imbalan
  • Bawa makanan lebih untuk dibagikan kepada satpam/petugas kebersihan kampus

Tuliskan dalam jurnal:

  • Apa yang Anda lakukan?
  • Bagaimana perasaan Anda sebelum dan sesudahnya?
  • Apa respons orang yang menerima?
  • Apa yang Tuhan ajarkan kepada Anda melalui tindakan ini?

Bagian 3: Evaluasi Akhir Minggu (Hari ke-7) Tulis refleksi 1-2 halaman menjawab:

  • Apa pola pengeluaran yang Anda temukan? Apakah ada yang mengejutkan?
  • Berapa persen dari total pemasukan Anda yang digunakan untuk memberi kepada orang lain?
  • Apa tantangan terbesar dalam mempraktikkan kesederhanaan dan kemurahan minggu ini?
  • Apa satu perubahan konkret yang akan Anda buat untuk minggu depan?
  • Bagaimana latihan ini mengubah cara Anda memandang uang dan kepemilikan?

Format Pengumpulan:

  • Jurnal dapat ditulis tangan atau diketik (format bebas, yang penting jujur dan reflektif)
  • Kumpulkan dalam bentuk PDF/foto atau langsung saat kelas
  • Tenggat Waktu: Pertemuan minggu depan sebelum kelas dimulai

Kriteria Penilaian:

  • Kelengkapan pencatatan (apakah konsisten 7 hari)
  • Kejujuran dan kedalaman refleksi (bukan tentang berapa banyak yang diberi, tetapi tentang proses transformasi hati)
  • Bukti tindakan kemurahan yang konkret
  • Evaluasi yang menunjukkan pembelajaran dan pertumbuhan rohani

Catatan Penting: Tugas ini bukan untuk membuat Anda merasa bersalah atau dipaksa memberi lebih dari kemampuan. Tujuannya adalah kesadaran (awareness) dan pertumbuhan karakter. Tuhan tidak menghitung berapa banyak yang kita beri, tetapi dengan hati seperti apa kita memberi.

Kiranya Tuhan memberkati perjalanan Anda minggu ini dalam belajar hidup sederhana dan murah hati.

"Sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2 Korintus 9:7)

 

Tidak ada komentar:

TUGAS MINGGUAN PERTEMUAN 11-Eksplorasi Tradisi Spiritual

 Tugas Mingguan: "Eksplorasi Tradisi Spiritual" Instruksi: Pilih SATU dari 5 tradisi formasi spiritual yang telah kita pelajari (s...