1. PENDAHULUAN
Kita hidup di zaman yang
dipenuhi dengan tuntutan konsumsi, materialisme, dan pengejaran harta yang tak
pernah puas. Sebagai mahasiswa teologi yang sedang dibentuk untuk melayani,
Anda berada di persimpangan penting: akankah kita membiarkan nilai-nilai dunia
membentuk cara kita memandang harta dan kepemilikan, ataukah kita akan
membiarkan Injil Kristus mentransformasi seluruh gaya hidup kita, termasuk
bagaimana kita memperoleh, menggunakan, dan membagikan berkat materi yang Tuhan
percayakan?
Disiplin kesederhanaan dan
kemurahan bukan sekadar tentang hidup hemat atau berderma sesekali. Ini adalah
panggilan radikal untuk hidup dengan kebebasan sejati—bebas dari belenggu
keinginan yang tak terpuaskan, bebas dari keserakahan yang mencengkeram, dan
bebas untuk mengasihi Allah dan sesama dengan sepenuh hati. Dalam tradisi
Wesleyan, kita memahami bahwa pengudusan mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk
kehidupan ekonomi kita. John Wesley sendiri hidup dengan prinsip yang
revolusioner: "Perolehlah sebanyak yang kamu bisa, simpanlah sebanyak yang
kamu bisa, berikanlah sebanyak yang kamu bisa" (Earn all you can, save all
you can, give all you can). Prinsip ini bukan tentang menumpuk kekayaan,
melainkan tentang mengelola berkat Allah dengan setia agar dapat menjadi
saluran berkat bagi orang lain.
Wesley sendiri mempraktikkan apa
yang ia ajarkan. Meskipun penghasilannya meningkat berkali lipat sepanjang
hidupnya, ia tetap hidup sederhana dengan anggaran yang sama, dan memberikan
hampir seluruh kelebihan penghasilannya untuk menolong orang miskin dan
memajukan Kerajaan Allah. Ia percaya bahwa kasih karunia Allah yang telah
membebaskan kita dari dosa juga membebaskan kita dari cinta akan uang.
Dasar alkitabiah kita adalah 1
Timotius 6:17-19: "Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia
ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak
tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan
kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu
berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan
demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu
yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya."
Hari ini kita akan
mengeksplorasi fondasi teologis kesederhanaan dan kemurahan, memahami bahaya
cinta akan uang, dan belajar praktik-praktik konkret yang membebaskan kita
untuk hidup murah hati bagi kemuliaan Allah.
2. TUJUAN
PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti pertemuan ini,
mahasiswa diharapkan mampu:
Aspek Kognitif:
- Menjelaskan fondasi teologis dan alkitabiah dari
disiplin kesederhanaan dan kemurahan sebagai ekspresi pengudusan progresif
dalam tradisi Wesleyan, termasuk memahami setidaknya tiga prinsip utama
penatalayanan yang Alkitabiah dan cara kasih karunia Allah membebaskan
kita dari perhambaan materialisme.
Aspek Afektif:
- Mengembangkan hati yang bersyukur dan murah hati,
mengalami transformasi dari sikap "apa yang bisa saya dapatkan"
menjadi "bagaimana saya bisa memberi," dengan kesadaran mendalam
bahwa segala yang kita miliki adalah pemberian Allah yang harus dikelola
dengan setia untuk kemuliaan-Nya dan kebaikan sesama.
Aspek Praktikal:
- Merancang dan menerapkan setidaknya dua komitmen
konkret dalam gaya hidup sederhana dan praktik kemurahan yang terukur
(seperti membuat anggaran pribadi yang mencakup memberi secara teratur,
mengurangi konsumsi yang tidak perlu, atau terlibat dalam pelayanan kepada
yang membutuhkan), yang dapat diterapkan segera dalam kehidupan
sehari-hari sebagai mahasiswa.
Aspek Transformatif:
- Mengalami pembebasan rohani dari keserakahan dan
kecemasan tentang materi melalui penyerahan penuh kepada Allah sebagai Pemilik
segalanya, sehingga mampu hidup dengan sukacita dalam kesederhanaan dan
kemurahan sebagai refleksi karakter Kristus yang telah "menjadi
miskin demi kita, supaya kita menjadi kaya oleh kemiskinan-Nya" (2
Korintus 8:9).
3. ISI PEMBELAJARAN
A. Fondasi
Alkitabiah: Allah Pemilik Segala Sesuatu
Titik berangkat disiplin
kesederhanaan dan kemurahan adalah pemahaman teologis yang benar tentang
kepemilikan. Mazmur 24:1 menegaskan: "Tuhan punya bumi serta
segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya." Kita bukan
pemilik, melainkan penatalayan (steward) yang dipercaya Allah untuk mengelola
berkat-Nya.
Lukas 12:15 mencatat peringatan Yesus yang tajam: "Berjaga-jagalah
dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah
hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu."
Yesus kemudian menceritakan perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh yang
menimbun harta untuk dirinya sendiri tetapi tidak kaya di hadapan Allah (Lukas
12:16-21). Perumpamaan ini mengajarkan bahwa akumulasi harta tanpa tujuan kekal
adalah kebodohan rohani.
Dalam Matius 6:19-21,
Yesus mengajar: "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi
ngengat dan karat merusakkannya... Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga...
Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." Ini bukan
larangan memiliki harta, melainkan peringatan tentang di mana kita meletakkan
hati kita. Harta duniawi bersifat sementara dan dapat dirusak; investasi kekal
adalah dalam Kerajaan Allah.
Ibrani 13:5 mengingatkan: "Janganlah kamu menjadi hamba
uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah
berfirman: 'Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali
tidak akan meninggalkan engkau.'" Kepuasan sejati bukan dalam
banyaknya kepemilikan, melainkan dalam janji kehadiran Allah yang setia.
B. Perspektif
Wesleyan: Penatalayanan sebagai Ibadah
John Wesley memiliki pandangan
yang sangat praktis dan radikal tentang uang dan harta. Dalam khotbahnya yang
terkenal, "The Use of Money" (Penggunaan Uang), Wesley mengajarkan
tiga aturan yang telah disebutkan di awal: perolehlah sebanyak yang kamu bisa
(melalui kerja yang jujur dan rajin), simpanlah sebanyak yang kamu bisa (hidup
sederhana, hindari pemborosan), dan berikanlah sebanyak yang kamu bisa (untuk
menolong orang miskin dan memajukan Kerajaan Allah).
Pertama, Wesley
memahami kemurahan sebagai buah kasih karunia pengudusan. Ketika kasih karunia Allah bekerja dalam hati kita,
menguduskan kita, salah satu tanda nyatanya adalah tangan yang terbuka untuk
memberi. 2 Korintus 8:9 mencatat: "Karena kamu telah mengenal
kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi
miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh kemiskinan-Nya."
Kristus telah memberikan segalanya bagi kita; respons kita adalah memberi
dengan murah hati kepada orang lain.
Kedua, kesederhanaan
adalah jalan menuju kebebasan rohani.
Wesley percaya bahwa keterikatan pada harta duniawi adalah salah satu
penghalang terbesar dalam perjalanan pengudusan. 1 Timotius 6:9-10
memperingatkan: "Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam
pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang
mencelakakan... Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang."
Kesederhanaan membebaskan kita dari jerat ini.
Ketiga, memberi
adalah sarana kasih karunia.
Seperti halnya doa dan puasa, memberi adalah praktik rohani yang membuka hati
kita untuk menerima lebih banyak kasih karunia Allah. 2 Korintus 9:6-8
berjanji: "Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan
orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga... sebab Allah sanggup
melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa
berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai
kebajikan."
C. Bahaya
Materialisme dan Konsumerisme
Kita hidup dalam budaya yang
terus-menerus membisikkan bahwa kebahagiaan dapat dibeli, bahwa status
ditentukan oleh apa yang kita miliki, dan bahwa kepuasan dapat ditemukan dalam
konsumsi. Namun Alkitab dan pengalaman manusia menunjukkan sebaliknya.
Pengkhotbah 5:10 menyatakan: "Siapa mencintai uang tak akan
puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tak akan puas dengan
penghasilannya." Materialisme adalah lingkaran setan yang tidak pernah
memberikan kepuasan sejati. Selalu ada satu barang lagi yang
"dibutuhkan," satu upgrade lagi yang "diperlukan."
Yesus dalam Matius 6:24
mengatakan dengan tegas: "Tidak seorangpun dapat mengabdi kepada dua
tuan... Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."
Mamon (uang, harta) menuntut kesetiaan eksklusif, sama seperti Allah. Kita
harus memilih: apakah Allah atau harta yang akan menjadi tuan dalam hidup kita?
Bagi mahasiswa teologi, godaan
materialisme mungkin tampak berbeda—bukan mobil mewah atau rumah besar, tetapi
keinginan untuk membandingkan diri dengan teman yang lebih berkecukupan, iri
hati pada mereka yang bisa membeli buku-buku baru sementara kita harus
memfotokopi, atau kecemasan tentang bagaimana nanti bisa melayani dengan
pendapatan yang mungkin terbatas. Namun akarnya sama: kurangnya kepercayaan
bahwa Allah akan memelihara kita.
D. Praktik
Kesederhanaan dan Kemurahan yang Konkret
Disiplin rohani ini memerlukan
tindakan praktis:
1. Hidup di Bawah
Kemampuan Finansial Ini berarti dengan
sengaja memilih gaya hidup yang lebih sederhana dari yang sebenarnya mampu kita
jalani, agar ada lebih banyak yang bisa diberikan. Sebagai mahasiswa, ini bisa
berarti: membeli buku bekas daripada baru, memasak sendiri daripada makan di
luar, menggunakan transportasi umum daripada ojek online.
2. Memberi Secara
Teratur dan Terencana Wesley mengajarkan
untuk memberi "perpuluhan" (10% dari penghasilan) sebagai standar
minimum, tetapi mendorong untuk memberi lebih banyak lagi sesuai kemampuan.
Buatlah komitmen untuk memberi secara teratur—baik untuk gereja, untuk orang
miskin, atau untuk pekerjaan misi.
3. Berbagi dengan
yang Membutuhkan Yakobus 2:15-16
menantang: "Jika seorang saudara atau saudara perempuan tidak mempunyai
pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu
berkata: 'Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!',
tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah
gunanya itu?" Iman sejati dinyatakan dalam tindakan konkret menolong
yang berkekurangan.
4. Bersyukur untuk
Apa yang Ada 1 Tesalonika
5:18 mengajar: "Mengucap syukurlah dalam segala hal."
Syukur adalah antidot terhadap ketamakan. Ketika kita bersyukur untuk apa yang
sudah kita miliki, kita terbebaskan dari dorongan untuk terus menginginkan
lebih.
Ingatlah bahwa tujuan akhir
kesederhanaan dan kemurahan adalah mengasihi Allah dengan segenap hati dan
mengasihi sesama seperti diri sendiri—inilah inti pengudusan Kristen.
4. PRAKTEK
PEMBELAJARAN
Aktivitas 1:
Refleksi Pribadi - "Inventarisasi Hati" (20 menit)
Petunjuk Fasilitasi:
- Mulai dengan waktu hening (2 menit) untuk
mempersiapkan hati.
- Pandu mahasiswa membaca Matius 6:19-21 secara
pribadi.
- Bagikan lembar refleksi dengan
pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. "Di mana harta saya saat ini?" (Apa yang
paling saya hargai/kejar dalam hidup ini?)
2. "Apa yang saya takutkan kehilangannya?"
3. "Apakah ada sesuatu yang saya genggam terlalu
erat sehingga tidak mau membaginya dengan orang lain?"
4. "Bagaimana cara saya menggunakan uang/sumber daya
yang saya miliki bulan lalu? Apakah mencerminkan nilai-nilai Kerajaan
Allah?"
- Berikan waktu 12 menit untuk refleksi dan menulis
dengan jujur.
- Tutup dengan doa pribadi penyerahan (5 menit):
minta mahasiswa menyerahkan area-area yang mereka identifikasi kepada
Tuhan.
- Tidak perlu dibagikan kepada umum—ini adalah
antara mahasiswa dengan Tuhan.
Tujuan: Membantu mahasiswa mengidentifikasi kemelekatan
materiil dalam hidup mereka dan membawa hal tersebut kepada Tuhan dalam doa.
Aktivitas 2: Studi
Kasus Kelompok - "Dilema Penatalayanan" (25 menit)
Petunjuk Fasilitasi:
- Bagi kelas menjadi kelompok kecil (4-5 orang).
- Berikan setiap kelompok satu kasus dilema: Kasus
1: Seorang mahasiswa teologi menerima uang saku Rp 1.000.000/bulan
dari orang tua. Ia melihat teman sekelasnya yang kesulitan membayar uang
kuliah. Namun ia juga ingin menabung untuk membeli laptop baru yang
"diperlukan" untuk studi. Apa yang harus ia lakukan? Kasus 2:
Sebuah kelompok pemuda gereja mengumpulkan dana untuk kegiatan retreat
yang menyenangkan. Di saat yang sama, ada keluarga di gereja yang rumahnya
kebakaran dan membutuhkan bantuan mendesak. Apakah dana retreat harus
dialihkan? Kasus 3: Seorang mahasiswa mendapat beasiswa yang cukup
besar. Teman-temannya mengajaknya merayakan di restoran mahal, tetapi ia
merasa dipanggil untuk memberi persepuluhan dari beasiswa tersebut dan
hidup sederhana. Bagaimana ia seharusnya merespons?
- Minta setiap kelompok mendiskusikan (15 menit):
- Apa prinsip-prinsip alkitabiah yang relevan?
- Apa yang akan John Wesley katakan dalam situasi
ini?
- Keputusan apa yang paling mencerminkan
kesederhanaan dan kemurahan?
- Setiap kelompok mempresentasikan kesimpulan
mereka (10 menit total untuk 3 kelompok).
Tujuan: Melatih mahasiswa menerapkan prinsip-prinsip
alkitabiah dalam situasi nyata yang mereka hadapi.
Aktivitas 3:
Komitmen Praktikal - "Langkah Kecil yang Berarti" (20 menit)
Petunjuk Fasilitasi:
- Bagikan lembar "Kontrak Kesederhanaan dan
Kemurahan Pribadi."
- Jelaskan bahwa setiap mahasiswa akan membuat 2-3
komitmen konkret yang dapat mereka lakukan minggu ini, misalnya:
- Kesederhanaan: "Saya akan membawa bekal makan siang dari rumah/kos selama 5
hari minggu ini, dan menggunakan uang yang dihemat untuk memberi
kepada..."
- Kemurahan: "Saya akan membagikan salah satu buku saya yang berharga
kepada teman yang membutuhkan."
- Penatalayanan: "Saya akan membuat catatan pengeluaran harian untuk melihat
ke mana uang saya pergi."
- Berikan waktu 10 menit untuk menulis komitmen
pribadi.
- Minta mahasiswa berpasangan (accountability
partner) dan saling berbagi satu komitmen mereka, lalu saling mendoakan
(10 menit).
- Kumpulkan salinan komitmen (tidak wajib detail
lengkap jika pribadi) untuk ditindaklanjuti minggu depan.
Tujuan: Membawa pembelajaran dari teori ke aplikasi konkret
dan terukur dalam kehidupan sehari-hari.
Total Waktu
Aktivitas: 65 menit (menyisakan 35 menit
untuk pengajaran formal dan tanya jawab)
5. PENUTUP
Saudara-saudari yang terkasih,
hari ini kita telah menjelajahi kebenaran yang menantang sekaligus membebaskan:
bahwa kita dipanggil untuk hidup dalam kesederhanaan dan kemurahan, bukan
karena Allah ingin membuat hidup kita susah, melainkan karena Ia ingin
membebaskan kita untuk mengalami sukacita sejati yang tidak bergantung pada harta
duniawi.
Mari kita mengingat kembali
poin-poin utama:
1. Allah adalah pemilik segala sesuatu; kita adalah
penatalayan. Perspektif ini
mengubah cara kita memandang dan menggunakan semua yang kita miliki.
2. Kesederhanaan membebaskan kita dari perhambaan materialisme, sementara kemurahan membuka pintu untuk mengalami
sukacita memberi yang mencerminkan karakter Allah sendiri.
3. Praktik konkret seperti hidup di bawah kemampuan,
memberi secara teratur, dan bersyukur
adalah sarana kasih karunia yang membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus
yang telah memberikan segalanya bagi kita.
Marilah kita berdoa bersama:
"Tuhan Yesus,
Engkau yang kaya telah menjadi miskin demi kami. Ajarlah kami untuk hidup
dengan tangan yang terbuka—terbuka untuk menerima berkat-Mu dengan syukur, dan
terbuka untuk membagikannya dengan murah hati kepada sesama. Bebaskan kami dari
cinta akan uang dan keterikatan pada harta duniawi. Tolonglah kami untuk
menemukan kepuasan sejati di dalam Engkau, bukan dalam apa yang kami miliki.
Jadikanlah kami penatalayan yang setia yang mengelola setiap berkat untuk
kemuliaan-Mu. Dalam nama-Mu yang mulia, Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin."
Aplikasi Praktis
untuk Minggu Ini: Mulailah dengan
langkah-langkah kecil yang telah Anda komitmenkan dalam aktivitas tadi. Buatlah
catatan sederhana tentang pengeluaran Anda selama seminggu—bukan untuk merasa
bersalah, tetapi untuk menjadi lebih sadar. Carilah setidaknya satu kesempatan
untuk memberi atau berbagi dengan seseorang yang membutuhkan, sekecil apapun
itu. Dan setiap kali Anda tergoda untuk membeli sesuatu yang tidak perlu,
berhentilah sejenak dan tanyakan: "Apakah ini kebutuhan atau keinginan?
Bagaimana uang ini bisa lebih baik digunakan untuk Kerajaan Allah?"
Ingatlah: kesederhanaan dan
kemurahan bukan tentang menjadi miskin demi kemiskinan itu sendiri, melainkan
tentang menjadi kaya dalam kasih dan bebas untuk melayani Allah dengan sepenuh
hati.
6. DISKUSI DAN TUGAS
MINGGUAN
Pertanyaan Diskusi:
1. Refleksi Budaya: Bagaimana budaya konsumerisme Indonesia (termasuk budaya media sosial
yang mendorong pamer) mempengaruhi cara kita memandang uang, kepemilikan, dan
status? Dalam cara-cara praktis apa kita sebagai mahasiswa teologi dapat
melawan arus budaya ini tanpa menjadi legalistik atau munafik?
2. Teologis:
John Wesley mengajarkan untuk "memperoleh sebanyak yang kamu bisa,
menyimpan sebanyak yang kamu bisa, dan memberi sebanyak yang kamu bisa."
Bagaimana ketiga prinsip ini saling melengkapi? Mengapa urutan ini penting?
Apakah ada bahaya jika kita hanya menekankan satu atau dua dari ketiga prinsip
ini?
3. Pribadi:
Ceritakan pengalaman ketika Anda harus memilih antara menggunakan uang untuk
diri sendiri atau memberi kepada orang lain. Apa yang Anda rasakan sebelum,
saat, dan sesudah membuat keputusan tersebut? Apa yang Anda pelajari tentang
hati Anda sendiri dari pengalaman itu?
4. Praktikal:
Sebagai mahasiswa dengan sumber daya yang terbatas, bagaimana kita dapat
mempraktikkan kemurahan? Apakah kemurahan selalu tentang uang, atau ada
bentuk-bentuk kemurahan lain yang sama berharga? Berikan contoh konkret.
5. Masa Depan Pelayanan: Bayangkan 10 tahun dari sekarang Anda sudah menjadi
pendeta atau pekerja penuh waktu di gereja. Bagaimana disiplin kesederhanaan
dan kemurahan yang Anda bangun sekarang akan mempengaruhi kredibilitas dan
efektivitas pelayanan Anda nanti? Apa bahayanya jika seorang pelayan Tuhan
hidup dalam kemewahan sementara jemaatnya banyak yang berkekurangan?
Tugas Mingguan:
Judul: Jurnal Penatalayanan dan Praktik Kemurahan Mingguan
Petunjuk
Pelaksanaan:
Bagian 1: Pencatatan
Keuangan (Dilakukan Setiap Hari)
1. Buatlah tabel sederhana dengan kolom: Tanggal |
Pemasukan | Pengeluaran | Kategori | Refleksi
2. Catat setiap pemasukan dan pengeluaran Anda selama 7
hari, tidak peduli sekecil apapun
3. Kategorikan pengeluaran: Kebutuhan Pokok | Pendidikan
| Persembahan/Memberi | Hiburan | Lain-lain
4. Di kolom refleksi, tulis catatan singkat: Apakah
pengeluaran ini perlu? Apakah mencerminkan nilai-nilai Kerajaan Allah?
Bagian 2: Tindakan
Kemurahan (Minimal 2 kali dalam seminggu) Lakukan setidaknya DUA dari tindakan berikut:
- Berikan sesuatu yang berharga bagi Anda (buku,
makanan, waktu) kepada seseorang yang membutuhkan
- Traktir makan teman yang Anda tahu sedang
kesulitan keuangan
- Sisihkan sejumlah uang (sesuai kemampuan) untuk
diberikan kepada orang miskin/pengemis yang Anda temui
- Relakan waktu Anda (2-3 jam) untuk membantu
seseorang tanpa mengharapkan imbalan
- Bawa makanan lebih untuk dibagikan kepada
satpam/petugas kebersihan kampus
Tuliskan dalam jurnal:
- Apa yang Anda lakukan?
- Bagaimana perasaan Anda sebelum dan sesudahnya?
- Apa respons orang yang menerima?
- Apa yang Tuhan ajarkan kepada Anda melalui
tindakan ini?
Bagian 3: Evaluasi
Akhir Minggu (Hari ke-7) Tulis refleksi
1-2 halaman menjawab:
- Apa pola pengeluaran yang Anda temukan? Apakah ada
yang mengejutkan?
- Berapa persen dari total pemasukan Anda yang
digunakan untuk memberi kepada orang lain?
- Apa tantangan terbesar dalam mempraktikkan
kesederhanaan dan kemurahan minggu ini?
- Apa satu perubahan konkret yang akan Anda buat
untuk minggu depan?
- Bagaimana latihan ini mengubah cara Anda
memandang uang dan kepemilikan?
Format Pengumpulan:
- Jurnal dapat ditulis tangan atau diketik (format
bebas, yang penting jujur dan reflektif)
- Kumpulkan dalam bentuk PDF/foto atau langsung
saat kelas
- Tenggat Waktu: Pertemuan minggu depan sebelum kelas dimulai
Kriteria Penilaian:
- Kelengkapan pencatatan (apakah konsisten 7 hari)
- Kejujuran dan kedalaman refleksi (bukan tentang
berapa banyak yang diberi, tetapi tentang proses transformasi hati)
- Bukti tindakan kemurahan yang konkret
- Evaluasi yang menunjukkan pembelajaran dan
pertumbuhan rohani
Catatan Penting: Tugas ini bukan untuk membuat Anda merasa bersalah
atau dipaksa memberi lebih dari kemampuan. Tujuannya adalah kesadaran
(awareness) dan pertumbuhan karakter. Tuhan tidak menghitung berapa banyak yang
kita beri, tetapi dengan hati seperti apa kita memberi.
Kiranya Tuhan memberkati
perjalanan Anda minggu ini dalam belajar hidup sederhana dan murah hati.
"Sebab Allah
mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2 Korintus 9:7)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar