Minggu, 22 Februari 2026

TUGAS DISIPLIN PUASA

TUGAS MANDIRI (WAJIB)

1.    Tugas Puasa 24 Jam & Jurnal (Tugas Utama — 35% tugas mingguan)

o   Lakukan puasa 24 jam (atau puasa parsial sesuai kondisi kesehatan) pada minggu ini.

o   Buat jurnal 600 kata yang memuat: niat rohani, pengalaman selama puasa (fisik & rohani), doa yang muncul, godaan, tindakan konkret yang direncanakan setelah puasa (alokasi sumber daya, pelayanan), dan evaluasi spiritual.

  • Kumpulkan jurnal minggu depan  hari Sabtu, 28 Februari 2026 pukul 23.59 Wib  (melalui kolom komentar blog ini dengan menyebutkan nama Saudara di awal). 
  • Tugas ini akan membantu Anda melihat bagaimana disiplin Puasa membawa pertumbuhan rohani yang nyata.

13 komentar:

Ananda mengatakan...

Nama : Gea Ananda
Nim : 2501104
Matkul : Formasi Spritual
Selasa, 24 febuari 2026

Jurnal Rohani tentang
Perjalanan 12 Jam Berpuasa: Melatih Tubuh, Menguatkan Roh.

Hari ini saya mengambil keputusan untuk berpuasa selama 12 jam sebagai bentuk kerinduan saya untuk lebih dekat dengan Tuhan. Niat rohani saya bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi saya ingin melatih hati saya supaya lebih peka terhadap suara Tuhan. Saya menyadari bahwa selama ini saya sering sibuk dengan aktivitas dan pikiran saya sendiri, sehingga waktu untuk berdiam diri di hadapan Tuhan menjadi kurang. Melalui puasa ini, saya berniat merendahkan diri, memperbarui komitmen iman saya, dan memohon agar Tuhan membentuk karakter saya menjadi lebih sabar, rendah hati, dan taat.
Secara fisik, pada jam-jam awal saya masih merasa biasa saja. Tubuh saya masih memiliki energi dari makanan sebelumnya. Namun, memasuki jam keempat dan kelima, rasa lapar mulai terasa. Perut saya berbunyi dan pikiran saya mulai teralih pada makanan. Saya menyadari betapa seringnya saya bergantung pada makanan sebagai penguat utama, padahal kekuatan sejati saya berasal dari Tuhan. Ketika rasa lemas mulai datang, saya belajar untuk tidak langsung mengeluh, melainkan berdoa dalam hati, meminta kekuatan dan keteguhan.
Secara rohani, puasa ini menjadi momen refleksi yang dalam. Saya mengambil waktu untuk berdoa lebih lama dari biasanya. Dalam doa, saya mengakui kelemahan saya, terutama dalam hal kurang percaya diri dan kurang disiplin rohani. Saya meminta Tuhan menolong saya agar tidak mudah goyah oleh keadaan. Saat membaca firman Tuhan, saya merasakan ketenangan yang berbeda. Ayat-ayat yang saya baca seakan berbicara langsung kepada kondisi hati saya. Saya diingatkan bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Tuhan. Firman itu menguatkan saya untuk bertahan hingga akhir puasa.
Namun, di tengah perjalanan puasa ini, muncul berbagai godaan. Godaan terbesar datang dari keinginan untuk membatalkan puasa lebih awal dengan alasan tubuh terasa lemah. Selain itu, muncul juga godaan untuk mengisi waktu dengan hal-hal yang kurang bermanfaat, seperti bermain media sosial terlalu lama agar lupa rasa lapar. Saya menyadari bahwa puasa bukan hanya menahan makan, tetapi juga menahan diri dari kebiasaan yang tidak membangun. Di situlah saya diuji,apakah saya sungguh-sungguh berpuasa untuk Tuhan atau hanya menjalankan rutinitas tanpa makna.
Saya memilih untuk melawan godaan itu dengan tindakan konkret, yaitu mematikan notifikasi ponsel dan mengambil waktu khusus untuk membaca firman lebih dalam. Saya juga menuliskan pokok-pokok doa di buku catatan agar fokus saya tidak mudah terpecah. Setiap kali rasa lapar datang, saya mengubahnya menjadi pengingat untuk berdoa singkat. Saya berkata dalam hati, Tuhan, saya lapar, tetapi saya lebih lapar akan hadirat-Mu.
Setelah menyelesaikan 12 jam puasa ini, saya merencanakan beberapa tindakan konkret sebagai buah dari pengalaman rohani ini. Pertama, saya akan menetapkan waktu doa harian yang lebih teratur, minimal 30 menit setiap pagi. Kedua, saya akan membatasi penggunaan media sosial agar tidak mengganggu waktu teduh saya. Ketiga, saya akan melatih disiplin diri, bukan hanya dalam hal makan, tetapi juga dalam perkataan dan sikap. Saya ingin puasa ini bukan hanya pengalaman sesaat, melainkan awal perubahan nyata dalam hidup saya.

Melalui 12 jam ini, saya belajar bahwa kelemahan fisik saya justru membuka ruang bagi kekuatan rohani. Saya menyadari bahwa ketika tubuh saya dilemahkan, roh saya justru dikuatkan. Puasa ini mengajarkan saya bahwa ketergantungan saya harus sepenuhnya kepada Tuhan. Saya bersyukur karena Tuhan menolong saya menyelesaikannya, dan saya berdoa agar api kerinduan ini tetap menyala dalam hidup saya setiap hari.

Elisabeth Wanma mengatakan...

Jurnal Rohani tentang hal berpuasa
Hari Jumat 27 /02/2026. Saya berpuasa selama 12 jam melatih tubuh dan menguatkan roh.

Berpuasa selama 12 jam bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi merupakan sebuah perjalanan rohani yang membawa perubahan dalam hidup saya. Puasa adalah latihan disiplin yang melibatkan tubuh, jiwa, dan roh. Dalam proses 12 jam, kita belajar mengendalikan diri secara jasmani dan sekaligus memperdalam hubungan kita dengan Tuhan secara rohani.

Secara jasmani, puasa melatih tubuh untuk tidak selalu menuruti keinginan. Tubuh saya secara alami ingin merasa nyaman, kenyang, dan puas. Namun ketika saya memutuskan untuk berpuasa, saya sedang berkata kepada tubuh saya bahwa roh lebih berkuasa daripada keinginan daging. Rasa lapar yang muncul menjadi pengingat bahwa hidup ini tidak hanya tentang kebutuhan fisik, tetapi juga tentang kebutuhan rohani. Ketika perut terasa kosong, saya belajar menguasai diri, bersabar, dan tidak mudah mengeluh. Disiplin ini membentuk karakter yang lebih kuat dan dewasa.

Namun makna terdalam dari puasa 12 jam terletak pada penguatan roh. Puasa adalah tindakan merendahkan diri di hadapan Tuhan. Saya mengakui bahwa tanpa Dia saya lemah. Setiap rasa lapar menjadi undangan untuk berdoa. Setiap rasa haus menjadi kesempatan untuk mencari hadirat Tuhan. Dalam keheningan dan kesederhanaan puasa, saya belajar mendengar suara Tuhan dengan lebih jelas.

Firman Tuhan mengajarkan bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Puasa mengingatkan saya bahwa makanan rohani jauh lebih penting daripada makanan jasmani. Selama 12 jam itu, saya bisa menggantikan waktu makan dengan membaca Alkitab, memuji Tuhan, dan berdoa secara pribadi. Roh saya yang mungkin selama ini lemah atau kurang peka, mulai diperbaharui dan dikuatkan.

Perjalanan puasa juga menjadi waktu refleksi diri. Saat saya menahan diri dari makanan, saya diajak untuk memeriksa hati: apakah ada kesombongan, kemarahan, iri hati, atau dosa yang tersembunyi? Puasa membuka ruang bagi pertobatan. Dalam kerendahan hati, saya memohon pengampunan dan pembaharuan. Roh Kudus bekerja melembutkan hati dan membentuk saya menjadi pribadi yang lebih serupa dengan Kristus.

Selain itu, puasa 12 jam mengajarkan ketekunan. Pada jam-jam awal mungkin terasa mudah, tetapi ketika rasa lapar semakin kuat, di situlah komitmen diuji. Apakah saya tetap setia atau menyerah? Ketekunan dalam puasa mencerminkan ketekunan dalam iman. Jika kita mampu setia dalam hal kecil seperti menahan diri selama 12 jam, saya juga akan dikuatkan untuk setia dalam tantangan hidup yang lebih besar.

Puasa bukanlah sarana untuk menunjukkan kesalehan kepada orang lain. Puasa adalah hubungan pribadi antara kita dan Tuhan. Ketika dilakukan dengan hati yang tulus, puasa menghasilkan damai sejahtera, sukacita rohani, dan kepekaan terhadap pimpinan Tuhan. Tubuh mungkin terasa lemah, tetapi roh menjadi kuat. Di situlah paradoks rohani terjadi: ketika saya merendahkan diri, Tuhan meninggikan say ketika saya mengosongkan diri, Tuhan memenuhi saya dengan hadirat-Nya.

Akhirnya, perjalanan berpuasa 12 jam adalah latihan ketaatan dan kasih kepada Tuhan. Saya belajar berkata, “Tuhan, Engkau lebih penting daripada kebutuhan jasmaniku.” Melalui disiplin ini, tubuh dilatih untuk tunduk, dan roh diperbaharui untuk semakin dekat dengan Tuhan. Puasa menjadi jembatan yang membawa kita dari kehidupan yang berpusat pada diri sendiri menuju kehidupan yang berpusat pada Allah. Dengan demikian, puasa 12 jam bukan hanya sebuah aktivitas rohani, tetapi sebuah proses pertumbuhan iman yang nyata dan mendalam.

arabel mengatakan...

Nama : Butet denti ara bela
Nim : 2501101
Matkul : Formasi spritual

Hari ini saya menjalani puasa 24 jam sebagai bagian dari latihan rohani yang juga pernah diajarkan dalam pelajaran formasi spiritual. Saya sudah mengerti bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi sarana untuk membentuk karakter dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun ketika menjalaninya secara nyata, saya merasakan sendiri betapa dalam maknanya.

Tantangan terbesar datang saat teman-teman makan di depan saya. Godaan itu terasa nyata. Di situ saya belajar menguasai diri, bukan hanya secara fisik, tetapi juga dalam sikap dan perkataan. Saya berusaha tetap tenang, tidak mengeluh, dan menjaga hati agar tidak terganggu. Saya sadar bahwa saat tubuh lemah, emosi lebih mudah muncul. Karena itu, saya melatih diri untuk berbicara dengan lembut dan berpikir dengan jernih.

Firman Tuhan dari Injil Matius pasal 6 benar-benar menegur saya. Dalam Matius 6:16-18, Yesus mengajarkan bahwa ketika berpuasa, jangan melakukannya supaya dilihat orang, tetapi lakukanlah untuk Bapa yang melihat dalam tersembunyi. Ayat itu membuat saya memeriksa motivasi hati saya. Apakah puasa ini sungguh untuk Tuhan? Apakah hati saya tetap tulus?

Saya juga berkomitmen membaca Alkitab pagi, siang, dan malam.
Pagi hari, firman Tuhan menolong saya memulai puasa dengan hati yang benar.
Siang hari, ketika rasa lapar mulai kuat, firman menjadi penguat dan pengingat bahwa Tuhan adalah sumber kekuatan saya.
Malam hari sebelum berbuka, saya merenungkan kembali penyertaan Tuhan sepanjang hari dan mengucap syukur atas kekuatan yang diberikan.

Melalui pengalaman ini, saya belajar bahwa puasa adalah latihan kerendahan hati. Bukan untuk terlihat kuat atau rohani, tetapi untuk melatih ketaatan, ketulusan, dan ketenangan hati. Teguran firman Tuhan hari ini membuat saya semakin sadar bahwa Tuhan melihat hati saya lebih dari apa pun yang tampak di luar.

Saya bersyukur karena melalui puasa ini, Tuhan sedang membentuk saya menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih tenang, dan lebih bergantung kepada-Nya.

Journey Of Faith mengatakan...

Nama : Rosalina Melani Sitanggang
NIM : 2501110
{Jumat, 27 Februari 2026}

Jurnal Puasa Pribadi

Kemarin saya menjalani puasa parsial (tidak penuh) selama 12 jam. Saya tidak melakukan puasa 24 jam penuh karena kondisi lambung saya tidak kuat. Walaupun begitu, saya tetap rindu memakai waktu puasa ini untuk mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Niat rohani saya adalah belajar menyangkal diri, terutama menyangkal hawa nafsu dan kedagingan dalam hidup saya. Saya ingin lebih dekat dengan Tuhan dan lebih peka mendengar suara-Nya dalam setiap langkah hidup saya. Saya juga rindu supaya melalui puasa ini, hati saya semakin dilembutkan oleh Tuhan dan hidup saya semakin diarahkan sesuai kehendak-Nya.

Selama 12 jam puasa, saya merasakan banyak hal dalam hati saya. Awalnya saya berpikir puasa ini akan berjalan biasa saja seperti hari-hari sebelumnya. Namun ternyata, di saat saya sedang berusaha mendekat kepada Tuhan, saya langsung menghadapi sebuah masalah yang cukup mengganggu perasaan saya. Keadaan itu membuat hati saya tidak tenang dan emosi saya menjadi tidak stabil. Pikiran saya sempat penuh dan hati saya terasa berat. Pada akhirnya saya menangis di hadapan Tuhan dan mencurahkan semua isi hati saya dengan jujur. Momen itu menjadi saat yang sangat pribadi antara saya dan Tuhan.

Dari pengalaman itu saya mulai sadar bahwa ketika saya sungguh-sungguh ingin bertumbuh rohani dan lebih dekat dengan Tuhan, sering kali justru ada ujian yang datang. Saya merasa Tuhan sedang melatih dan membentuk hati saya. Di tengah rasa lapar dan emosi yang naik turun, saya belajar untuk tetap datang kepada Tuhan, bukan menjauh dariNya. Saya juga belajar bahwa menyangkal diri bukan hanya soal menahan makan, tetapi juga menahan emosi, ego, dan keinginan diri saya sendiri. Ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi perjalanan rohani saya.

Selama puasa, doa yang paling sering saya naikkan adalah supaya Tuhan menolong saya menguasai diri. Saya berdoa agar Tuhan memberi saya kesabaran, kerendahan hati, dan hati yang mau mengampuni orang lain. Jujur, proses ini tidak mudah saya jalani. Saat tubuh lapar dan hati sedang terganggu, saya beberapa kali merasa ingin menyerah dan mengikuti perasaan saya saja. Bahkan ada momen di mana saya merasa sangat lelah secara emosi. Godaan terbesar yang saya rasakan bukan hanya keinginan untuk makan, tetapi keinginan untuk meluapkan emosi saya dan membenarkan diri sendiri.

Namun melalui proses puasa ini, saya melihat bahwa Tuhan sedang bekerja di dalam hati saya. Saya belajar untuk lebih tenang, diam sejenak, dan menyerahkan perasaan saya kepada Tuhan dalam doa. Saya juga mencoba mengingat bahwa Tuhan sedang mengajar saya untuk bertumbuh melalui proses yang tidak selalu nyaman. Walaupun saya sadar saya belum sempurna, saya tetap bersyukur karena Tuhan menolong saya untuk tidak langsung dikuasai oleh emosi seperti biasanya. Saya percaya proses ini adalah bagian penting dari pertumbuhan rohani saya.

Setelah menjalani puasa ini, saya membuat beberapa komitmen pribadi. Saya ingin lebih teratur dalam waktu doa setiap hari dan lebih setia membaca firman Tuhan dengan hati yang rindu. Saya juga mau belajar mengendalikan respon saya ketika menghadapi masalah atau tekanan. Dalam pelayanan, saya rindu melayani dengan hati yang lebih lembut, lebih sabar, dan tidak mudah tersinggung. Selain itu, saya juga mau lebih bijak menjaga kesehatan tubuh saya, termasuk dalam mengatur pola puasa yang sesuai dengan kondisi saya supaya saya tetap sehat.

Evaluasi rohani saya dari pengalaman ini adalah Tuhan benar-benar memakai puasa untuk membuka dan menata hati saya. Saya melihat bahwa saya masih perlu banyak belajar menyangkal diri, terutama dalam hal emosi dan kesabaran. Namun saya juga melihat bahwa Tuhan tidak meninggalkan saya dalam proses ini. Saya percaya Tuhan sedang menuntun saya bertumbuh sedikit demi sedikit setiap hari. Saya berdoa kiranya Tuhan terus menolong saya untuk hidup lebih peka terhadap suara-Nya, tetap rendah hati, setia dalam proses, dan terus berjalan bersamaNya setiap hari. Amin ^^

Michael Sihite mengatakan...

Nama : Michael Andreanus Sihite
Nim : 2501106
Matkul : Formasi Spiritual


Minggu ini saya melakukan puasa pada hari Rabu dan Jumat dengan mengikuti pola puasa John Wesley sebagai bentuk disiplin rohani untuk melatih ketaatan dan pembentukan karakter. Dasar firman yang menguatkan saya adalah Injil Matius 6:16–18 tentang sikap hati yang benar saat berpuasa serta teladan jemaat mula-mula dalam Kisah Para Rasul 13:2–3 yang berpuasa sebelum mengambil keputusan pelayanan. Niat saya bukan sekadar menahan lapar, tetapi belajar bergantung penuh kepada Tuhan, memurnikan motivasi pelayanan, dan menyerahkan studi serta masa depan panggilan hidup saya kepada-Nya. Secara fisik, pada awalnya tubuh masih stabil, namun menjelang siang rasa lapar semakin kuat disertai sedikit lemas dan pusing ringan, sehingga saya menyadari betapa seringnya saya mencari kenyamanan melalui makanan; setiap rasa lapar saya ubah menjadi doa singkat, “Tuhan, Engkau adalah roti hidupku.” Secara rohani, justru dalam kelemahan itu saya merasakan kepekaan yang lebih dalam saat berdoa dan membaca firman, dan saya disadarkan bahwa masih ada motivasi tersembunyi seperti keinginan dihargai atau diakui dalam pelayanan; Tuhan menegur saya bahwa pelayanan sejati harus lahir dari kasih, bukan ambisi. Godaan terbesar bukan hanya makanan, tetapi distraksi seperti bermain ponsel atau keinginan untuk menyerah lebih cepat, namun saya belajar membedakan kebutuhan dan keinginan serta menjadikan setiap godaan sebagai latihan ketaatan. Setelah puasa ini, saya berkomitmen mengalokasikan sebagian uang konsumtif untuk membantu sesama, menetapkan disiplin doa pribadi minimal 30 menit setiap hari tanpa distraksi, dan melayani dengan hati yang lebih rendah serta peka terhadap kebutuhan orang lain. Evaluasi spiritual saya adalah bahwa saya memang lemah, tetapi melalui puasa ini saya belajar bergantung kepada Tuhan dan membangun relasi yang lebih konsisten dengan-Nya, sehingga hidup saya semakin berpusat kepada Kristus dan bukan kepada diri sendiri.

Josua Panggabean mengatakan...

Nama : Josua Ian Duncan Panggabean
NIM : 2501111
Di hari Kamis minggu ini, saya memilih untuk berpuasa selama satu hari sebagai latihan rohani yang pernah saya pelajari dalam pembinaan formasi spiritual. Saya menyadari bahwa puasa bukan sekadar menahan kebutuhan jasmani, melainkan proses pembentukan karakter dan pendalaman relasi dengan Tuhan. Saat saya mengalaminya sendiri, saya merasakan bahwa arti puasa ini jauh lebih dalam daripada yang pernah saya pahami sebelumnya.
Kesulitan terbesar muncul ketika saya melihat teman-teman makan di sekitar saya. Godaan terasa sangat kuat. Dari situ saya belajar mengendalikan diri, bukan hanya dalam kebutuhan tubuh, tetapi juga dalam sikap dan perkataan. Saya berusaha tetap bersikap tenang, tidak mengeluh, dan menjaga hati agar tidak dipenuhi rasa kesal. Saya menyadari bahwa ketika tubuh terasa lemah, emosi lebih mudah goyah. Karena itu, saya berlatih untuk berbicara dengan lebih lembut dan berpikir dengan lebih jernih.

Firman Tuhan dari kitab Yesaya pasal 58 menyadarkan hati saya. Dalam Yesaya 58:6–7, Tuhan menegaskan bahwa puasa yang berkenan kepada-Nya bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, melainkan diwujudkan melalui sikap hati yang benar dan kepedulian kepada sesama. Ayat ini membuat saya merenungkan motivasi saya sendiri: apakah puasa yang saya lakukan sungguh-sungguh untuk Tuhan? Apakah sikap hati saya tetap tulus dan taat kepada-Nya?
Saya juga berkomitmen membaca Alkitab secara teratur sepanjang hari.
Pada pagi hari, firman Tuhan menolong saya memulai puasa dengan sikap yang benar.
Pada siang hari, ketika rasa lapar semakin terasa, firman Tuhan menjadi penguat dan pengingat bahwa kekuatan sejati berasal dari-Nya.
Pada malam hari menjelang berbuka, saya mengingat kembali penyertaan Tuhan sepanjang hari dan mengucap syukur atas kekuatan yang telah Ia berikan.

Dari pengalaman ini, saya memahami bahwa puasa adalah latihan untuk merendahkan diri. Bukan untuk menunjukkan kesalehan atau kekuatan pribadi, tetapi untuk melatih ketaatan, kejujuran hati, dan ketenangan batin. Teguran firman Tuhan hari ini membuat saya semakin sadar bahwa yang Tuhan perhatikan bukanlah penampilan luar, melainkan sikap hati.

Saya bersyukur karena melalui latihan puasa ini, Tuhan sedang membentuk saya menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih terkendali, dan semakin bergantung kepada-Nya.

Gracecia mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Gracecia mengatakan...

Nama : Gracecia Lubis
NIM : 2501112

Jurnal tentang puasa
Sabtu, 28 Februari 2026 saya melakukan puasa 12 jam, karena saya belum sanggup melakukan puasa selama 24 jam. Saya menyadari puasa bukanlah hanya sekedar menahan lapar terhadap makanan, tetapi bagaimana saya juga dapat menguasai diri saya, memperlengkapi kebutuhan rohani saya. Saat berpuasa, saya membaca beberapa nats alkitab, lalu membaca tentang Yesus yang berpuasa selama 40 hari, 40 malam. Setelah beberapa jam saya puasa, secara fisik saya mulai malas untuk melakukan aktivitas dan mulai merasa lapar. Banyak godaan untuk saya lakukan ketika saya berpuasa, seperti godaan untuk membeli makanan, bermain sosial media.

Saya menyadari betapa luarbiasanya Yesus melakukan puasa selama itu tanpa makan maupun minum. Selain membaca alkitab, saya juga mendoakan orang tua dan adik-adik saya, sahabat dan orang-orang terdekat saya yang senantiasa mendukung saya di tempat ini. Saya juga berdoa agar saya dimampukan untuk berproses dan bertumbuh di tempat ini.
Setelah berpuasa, saya menyadari bahwa saya hanyalah manusia berdosa yang tidak ada apa-apanya. Hidup saya boleh berjalan hanya ketika saya menyerahkan dan mempercayakan segalanya kepada Tuhan.

Ketika berpuasa, saya menjadi lebih tenang dan pendiam dari biasanya. Saya merasakan ketenangan dan kesunyian dalam satu hari itu, saya merasakan ketenangan dalam hati saya. Sehingga saya boleh fokus untuk hal-hal yang ingin saya bicarakan dengan Tuhan. Saya sungguh bersyukur, boleh mendapatkan kesempatan seperti ini.

Jelita mengatakan...

Laporan Puasa Jelita Simamora
I. Puasa total (Puasa penuh) Jumat malam- Sabtu malam
II. Laporan penggunaan waktu
III. 19:00 Awal puasa
19.20-20.45 Belajar
21:00-21:15 Baca Alkitab (Mzm. 65-68)
23:05-23:10 Doa tidur
23:30-04:30 Istirahat
06:30-07:35 Berdoa
07:00-07:25 Baca Alkitab (Mzm. 69-73)
19:00- 19:30 Bukak Puasa (Makan)

DailywithOWEN mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
DailywithOWEN mengatakan...

Nama : Samuel Owen Simanungkalit
Nim : 2501108

Pada selasa 24 Februari saya menjalani puasa selama 12 jam, bukan 24 jam penuh karena kondisi Saya tidak ada makan sama sekali saya tidak kuat. Walaupun begitu, saya tetap ingin memakai waktu puasa itu untuk sungguh-sungguh mencari Tuhan. Tujuan saya sederhana: saya ingin belajar menyangkal diri, terutama dalam hal mengendalikan hawa nafsu dan sifat kedagingan saya. Saya rindu semakin dekat dengan Tuhan dan lebih peka mendengar suara-Nya.
Awalnya saya pikir puasa ini akan berjalan biasa saja. Tetapi ternyata tidak. Justru ketika saya sedang berusaha mendekat kepada Tuhan, muncul masalah yang membuat hati saya tidak tenang. Perasaan saya jadi kacau dan akhirnya saya menangis di hadapan Tuhan. Di momen itu, saya melihat dengan jujur bagaimana sebenarnya kondisi hati saya.
Dari situ saya sadar, setiap kali kita ingin bertumbuh dan lebih dekat dengan Tuhan, sering kali ada ujian yang datang. Saya merasa Tuhan sedang melatih hati saya. Di tengah rasa lapar dan emosi yang naik turun, saya belajar untuk tetap datang kepada Tuhan, bukan menjauh dari-Nya. Saya juga belajar bahwa menyangkal diri bukan cuma soal menahan lapar, tapi juga soal menahan emosi, ego, dan keinginan untuk mengikuti perasaan sendiri.
Selama puasa, doa yang paling sering saya panjatkan adalah supaya Tuhan menolong saya untuk setiap aktivitas Saya. Saya minta supaya Tuhan memberi saya kesabaran, kerendahan hati, dan kemampuan untuk Menjalani-Nya. Jujur saja, itu tidak mudah. Saat tubuh lapar , rasanya lebih sulit mengendalikan diri. Ternyata godaan terbesar bukan hanya ingin makan, tetapi ingin mengikuti Keinginan daging saya sendiri.
Namun lewat proses itu, saya bisa melihat Tuhan sedang bekerja dalam hati saya. Saya belajar untuk lebih tenang dan menyerahkan perasaan saya kepada Tuhan. Walaupun saya belum sempurna, saya bersyukur karena kali ini saya tidak langsung dikuasai seperti biasanya. Saya sadar bahwa pertumbuhan rohani memang sering kali tidak nyaman, tetapi justru lewat proses seperti inilah Tuhan membentuk karakter saya.
Setelah puasa ini, saya berkomitmen untuk lebih teratur berdoa dan membaca firman Tuhan setiap hari. Saya juga mau belajar mengatur respons saya saat menghadapi masalah. Dalam pelayanan, saya rindu melayani dengan hati yang lebih lembut dan tidak mudah tersinggung. Selain itu, saya juga ingin lebih bijak menjaga kesehatan tubuh, termasuk dalam mengatur pola puasa sesuai kemampuan saya.
Kesimpulannya, saya melihat Tuhan memakai puasa ini untuk membuka mata dan hati saya. Saya masih perlu banyak belajar menyangkal diri, terutama dalam mengendalikan emosi , Pengendalian diri dan melatih kesabaran. Tapi saya percaya Tuhan sedang menuntun saya untuk bertumbuh sedikit demi sedikit. Saya berdoa supaya Tuhan terus menolong saya hidup lebih peka terhadap suara-Nya dan tetap setia berjalan bersama-Nya setiap hari. Amin…

alexasihotang mengatakan...

Pada hari Sabtu, 28 Februari, saya memutuskan untuk berpuasa selama 12 jam.
Tujuan saya berpuasa adalah untuk memurnikan hati, mempersiapkan diri secara rohani, dan membentuk karakter saya sebagai dasar sebelum memulai pelayanan. Di awal puasa, saya merasa yakin dan berpikir bahwa saya bisa menjalaninya dengan baik. Namun, semakin lama waktu berjalan, saya mulai merasa lapar. Saya pun sadar bahwa puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang menahan diri, terutama dalam menjaga perkataan dan sikap saat menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan.
Selama berpuasa, saya tetap melakukan aktivitas seperti biasa supaya puasa yang saya jalani tidak sia-sia. Ada saat saya merasa lemas, kurang semangat, bahkan sedikit pusing. Saya juga menghadapi banyak godaan, salah satu seperti sulit menahan emosi ketika ada hal yang membuat saya kesal.
Firman Tuhan dalam Matius 6:16–18 mengingatkan saya bahwa puasa bukan untuk dilihat atau dipuji orang lain. Puasa adalah hubungan pribadi antara saya dan Tuhan. Karena itu, puasa harus dilakukan dengan hati yang tulus, bukan untuk pamer atau mencari pengakuan dari orang lain. Melalui puasa ini, saya ingin mengalami perubahan dalam diri saya, lebih fokus pada doa dan pertobatan.
Lewat pengalaman berpuasa ini, saya belajar untuk menjadi lebih rendah hati dan menyadari bahwa saya selalu membutuhkan Tuhan, baik saat saya merasa kuat maupun saat saya merasa lemah. Saya mengerti bahwa saya bisa bertahan bukan karena kekuatan saya sendiri, tetapi karena Tuhan yang memberi saya kekuatan. Tujuan utama saya berpuasa adalah untuk semakin dekat dengan Tuhan dan memiliki hati yang lebih taat kepada-Nya.

Michael Aldinho Tampubolon mengatakan...

JURNAL DISIPLIN PUASA 24 JAM
Saya menjalani puasa 24 jam yang dimulai pada hari Jumat pukul 18.00 dan berakhir pada hari Sabtu pukul 18.00. Puasa ini saya lakukan sebagai bentuk disiplin rohani dan komitmen pribadi untuk melatih ketaatan serta mempersiapkan hati dalam pelayanan. Meskipun sedang berpuasa, saya tetap bangun pada hari Sabtu pukul 04.00 pagi untuk melayani pada pukul 05.00.
Pada malam Jumat setelah memulai puasa, saya sudah menetapkan niat bahwa puasa ini bukan sekadar menahan lapar, tetapi melatih pengendalian diri dan ketergantungan kepada Tuhan. Ketika bangun pukul 04.00 pagi dalam keadaan belum makan sejak Jumat sore, tubuh terasa lebih lemah dari biasanya. Ada rasa berat dan sedikit kekhawatiran apakah saya akan kuat menjalani pelayanan. Namun saya tetap bangun dan mempersiapkan diri.
Saat pelayanan berlangsung, saya belajar bahwa kekuatan tidak selalu berasal dari kondisi fisik yang prima. Dalam keadaan berpuasa, saya justru merasakan kesadaran yang lebih dalam bahwa saya membutuhkan pertolongan Tuhan. Saya berdoa agar Tuhan memampukan saya melayani dengan hati yang tulus dan tidak mengandalkan tenaga sendiri.
Memasuki siang hari, rasa lapar semakin terasa. Pikiran tentang makanan beberapa kali muncul, tetapi saya berusaha mengalihkan fokus pada doa dan refleksi. Puasa ini mengajarkan saya bahwa disiplin rohani membutuhkan komitmen, terutama ketika kondisi tubuh tidak nyaman. Saya menyadari bahwa sering kali saya lebih cepat mengikuti keinginan fisik daripada melatih ketaatan.
Puasa berakhir pada hari Sabtu pukul 18.00 dan saya membuka puasa pada waktu tersebut. Setelah berbuka, saya merasakan kelegaan dan syukur karena dapat menyelesaikan komitmen 24 jam sesuai yang telah saya tetapkan. Sekarang ketika menuliskan jurnal ini pada pukul 23.22, saya merefleksikan bahwa puasa ini bukan tentang seberapa lama saya menahan lapar, tetapi tentang proses pembentukan hati.
Melalui pengalaman ini, saya belajar bahwa pelayanan dan disiplin rohani berjalan seiring. Walaupun tubuh terbatas, Tuhan tetap memberi kekuatan. Saya berharap ke depan saya dapat lebih konsisten menjaga waktu doa pribadi dan mempersiapkan hati sebelum melayani. Puasa ini menjadi pengingat bahwa pertumbuhan rohani membutuhkan latihan nyata, kesungguhan, dan ketekunan dalam menjalani komitmen yang telah dibuat.

TUGAS MINGGUAN PERTEMUAN 11-Eksplorasi Tradisi Spiritual

 Tugas Mingguan: "Eksplorasi Tradisi Spiritual" Instruksi: Pilih SATU dari 5 tradisi formasi spiritual yang telah kita pelajari (s...