MATERI POKOK
Bagian 1: Landasan Biblika — Penderitaan sebagai Jalan Rohani
Alkitab tidak menyembunyikan realitas
penderitaan. Dari kitab Ayub hingga Mazmur ratapan, dari taman Getsemani hingga
Golgota, Alkitab secara konsisten menempatkan penderitaan bukan sebagai anomali
iman, melainkan sebagai bagian integral dari perjalanan mendekat kepada Allah.
|
Bukan hanya itu saja, kita malah bermegah juga dalam
kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan
ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan
pengharapan. — Roma 5:3-4
(TB) |
Beberapa narasi biblika utama yang menjadi
dasar teologi penderitaan formatif:
|
1.1
Ayub: Kegelapan sebagai Ruang Perjumpaan dengan Allah Kitab Ayub mengajarkan bahwa penderitaan yang
paling dalam pun tidak memutuskan relasi dengan Allah. Ayub bukan diberi
penjelasan — ia diberi perjumpaan. Ini adalah prototipe dark night of the
soul dalam Perjanjian Lama: di tengah keheningan Allah, justru terjadi
perjumpaan yang paling otentik. |
|
1.2
Mazmur Ratapan: Kejujuran Rohani di Hadapan Allah Sekitar sepertiga dari kitab Mazmur adalah ratapan
(lament). Tradisi Kristen sering mengabaikan genre ini, padahal ratapan
adalah bentuk doa yang paling jujur dan menunjukkan kedekatan relasi dengan
Allah. Mazmur 22, 42, 88 memberikan model bagaimana mengekspresikan
penderitaan tanpa kehilangan iman. |
|
1.3
Paulus: Teologi Salib dan Kelemahan Dalam 2 Korintus 12:9-10, Paulus mengajarkan
paradoks rohani: kelemahan adalah konteks di mana kuasa Allah paling nyata.
Duri dalam dagingnya bukan dihilangkan tetapi dimaknai ulang sebagai sarana
anugerah. Ini menjadi dasar teologi Wesleyan tentang ketergantungan total
kepada anugerah Allah. |
|
1.4
Yesus di Getsemani dan Golgota Kristologi salib adalah puncak teologi penderitaan
formatif. Yesus tidak menghindari penderitaan, melainkan memeluknya dengan
ketaatan penuh. Getsemani mengajarkan pergumulan doa di tengah krisis;
Golgota mengajarkan bahwa Allah sendiri hadir dalam titik penderitaan yang
paling dalam — ini yang disebut teologi theologia crucis. |
Bagian 2: Dark Night of the Soul — Tradisi Mistik Kristen
Konsep dark night of the soul berasal dari
karya San Juan de la Cruz (Yohanes dari Salib, 1542-1591), seorang mistikus
Karmelit Spanyol. Dalam karyanya La Noche Oscura del Alma, ia menggambarkan dua
tahap pemurnian rohani yang merupakan anugerah tersembunyi dari Allah.
|
Jiwa berjalan dalam kegelapan dan kekosongan, jauh dari
segala kesenangan — dan justru di situlah Allah bekerja paling dalam,
memurnikan dan mentransformasi jiwa menjadi serupa dengan diri-Nya. — Yohanes
dari Salib, La Noche Oscura del Alma |
|
Malam Gelap Indra (Senses) |
Malam Gelap Roh (Spirit) |
|
Pemurnian dari ketergantungan pada
kepuasan rohani yang bersifat sensori (perasaan sukacita, semangat,
pengalaman emosional dalam ibadah). Ketika perasaan rohani menghilang, inilah
tahap pertama. |
Pemurnian yang lebih dalam dari
ketergantungan pada pemahaman intelektual dan gambaran tentang Allah. Jiwa
mengalami kekosongan total — bahkan Allah seolah tidak ada. Inilah ujian iman
yang paling berat. |
Penting untuk dibedakan: dark night of the
soul bukanlah depresi klinis, kemalasan rohani, atau hukuman ilahi. Ini adalah
proses anugerah dimana Allah secara aktif memurnikan jiwa dari segala bentuk
ketergantungan selain Allah sendiri.
Bagian 3: Perspektif Wesleyan — Penderitaan dalam Via Salutis
Tradisi Wesleyan memiliki kerangka teologis
yang khas dalam memandang penderitaan: seluruh perjalanan hidup Kristen
dipahami dalam konteks via salutis (jalan keselamatan) yang melibatkan karya
anugerah Allah yang bertahap dan berkelanjutan.
3.1 Sanctifying Grace dan Penderitaan
John Wesley memahami penderitaan sebagai
salah satu means of grace — sarana di mana Allah bekerja untuk menguduskan dan
mentransformasi jiwa. Berbeda dari tradisi Reformed yang lebih menekankan
kedaulatan absolut Allah dalam penderitaan, Wesley menekankan respons aktif
manusia terhadap anugerah yang hadir di tengah penderitaan.
|
God's design in repentance, and in all the sufferings
connected with it, is our welfare. Repentance is only grievous as it is the
inlet into a better state. Rancangan Tuhan dalam
pertobatan, dan dalam semua penderitaan yang terkait dengannya, adalah
kesejahteraan kita. Pertobatan hanya menyakitkan sejauh itu merupakan jalan
masuk ke keadaan yang lebih baik. — John
Wesley, Journal, 1739 |
Wesley mengidentifikasi tiga cara anugerah
Allah bekerja melalui penderitaan:
•
Anugerah Prevenient dalam Krisis: Bahkan sebelum
manusia menyadari kehadiran Allah, Allah telah mendahului dengan anugerah-Nya
dalam situasi paling gelap sekalipun.
•
Anugerah Justifying melalui Pertobatan: Penderitaan
seringkali menjadi titik balik yang membawa seseorang pada pertobatan sejati
dan kepercayaan yang diperbarui.
•
Anugerah Sanctifying melalui Transformasi: Penderitaan
yang direspons dengan iman bekerja membentuk karakter Kristiani — kesabaran,
kerendahan hati, ketergantungan pada Allah.
3.2 Entire Sanctification dan Pengalaman Pahit
Doktrin entire sanctification Wesley —
kondisi di mana kasih kepada Allah dan sesama menjadi motivasi dominan — tidak
dicapai tanpa melalui pemurnian. Wesley sendiri mengakui dalam Journal-nya
tentang periode-periode keringnya iman, keraguan, dan krisis rohani yang justru
memurnikannya dari kepercayaan diri sendiri menuju ketergantungan penuh pada
anugerah Allah.
Aldersgate (24 Mei 1738) — momen
transformasi terkenal Wesley — tidak muncul dalam vakum. Ia didahului oleh
krisis iman yang berkepanjangan, kegagalan misi di Georgia, dan pergumulan
eksistensial yang mendalam. Aldersgate adalah buah dari dark night of the soul
yang Wesley jalani selama bertahun-tahun.
3.3 Tokoh-Tokoh Wesleyan dan Penderitaan Formatif
|
Tokoh |
Bentuk
Penderitaan/Krisis |
Hasil
Formasi Spiritual |
|
John Wesley |
Kegagalan misi Georgia; penolakan berkhotbah
di gereja-gereja; krisis iman pra-Aldersgate |
Ketergantungan penuh pada anugerah;
doktrin prevenient grace yang lebih dalam; kepemimpinan yang rendah hati |
|
Charles Wesley |
Penyakit fisik kronis; tekanan
psikologis gerakan kebangkitan; pergumulan teologis |
Ratusan himne yang lahir dari
penderitaan; teologi sukacita di tengah derita |
|
Phoebe Palmer |
Kehilangan dua anak; krisis iman yang
mendalam |
Doktrin entire sanctification yang
diperbaharui; pelayanan perempuan yang revolusioner |
|
E. Stanley Jones |
Kelelahan total dalam pelayanan misi;
kerusakan saraf |
Konsep Ashram Kristen; pemahaman
tentang istirahat sebagai disiplin rohani |
Bagian 4: Tipologi Penderitaan dan Respons Formatifnya
Tidak semua penderitaan memiliki karakter
formatif yang sama. Pemahaman yang matang memerlukan kemampuan untuk membedakan
berbagai tipe penderitaan dan bagaimana masing-masing dapat direspons secara
rohani.
|
Tipe
Penderitaan |
Contoh
Konkret |
Potensi
Formasi dalam Perspektif Wesleyan |
|
Penderitaan Fisik |
Penyakit, disabilitas, kelelahan kronis |
Pembentukan ketergantungan pada Allah;
solidaritas dengan yang menderita; disiplin penerimaan |
|
Penderitaan Emosional |
Duka kehilangan, kecemasan, depresi, trauma |
Pendalaman empati pastoral; pemurnian
dari kontrol diri; keterbukaan terhadap komunitas |
|
Penderitaan Rohani |
Kekeringan doa, keraguan iman, rasa ditinggalkan Allah |
Dark night of the soul sebagai
pemurnian; deepening of faith beyond feelings |
|
Penderitaan Relasional |
Pengkhianatan, penolakan, konflik gereja |
Pembentukan belas kasih; pemurnian dari
harga diri yang rapuh; kapasitas memaafkan |
|
Penderitaan Struktural/Sosial |
Ketidakadilan, diskriminasi, kemiskinan |
Kekudusan sosial Wesleyan; panggilan
profetis; solidaritas aktif |
|
Penderitaan Eksistensial |
Krisis makna, kehilangan identitas, pertanyaan tentang tujuan
hidup |
Kedalaman pencarian teologis;
kematangan iman yang tidak dangkal |
Bagian 5: Pastoral dalam Konteks Penderitaan
Pemahaman teologis tentang penderitaan
harus berujung pada kapasitas pastoral yang nyata. Seorang pelayan Tuhan yang
telah memproses penderitaan secara teologis akan mampu mendampingi orang lain
dengan hikmat dan belas kasih, bukan sekadar memberikan jawaban atau kata-kata
penghiburan yang dangkal.
|
Prinsip
Pastoral Wesleyan dalam Mendampingi Orang yang Menderita Hadir sebelum berbicara (presence before
proclamation). Dengarkan dengan penuh perhatian sebelum menawarkan penjelasan
teologis. Wesley menekankan bahwa cure of souls dimulai dari kenosis —
pengosongan diri pelayan agar menjadi ruang bagi penderitaan orang lain.
Hindari tiga perangkap: menjelaskan terlalu cepat, menghibur dengan klise
rohani, dan menghakimi motivasi penderitaan. |